Untuk menentukan Pilihan antibiotik yang akan di gunakan tergantung pada infeksi bakteri yang menyebabkannya. Hal ini karena setiap antibiotik hanya efektif terhadap bakteri dan parasit tertentu. Misalnya, jika seseorang mengalami pneumonia, dokter tahu bakteri apa yang biasanya menyebabkan pneumonia. Sehingga dokter akan memilih antibiotik yang paling efektif membasmi jenis bakteri tersebut. Selain itu, ada faktor lain yang menjadi pertimbangan dalam memilih antibiotik, Antara lain: seberapa parah infeksinya, seberapa baik fungsi ginjal dan hati, jadwal dosis, obat lain yang diminum, efek samping, riwayat alergi terhadap jenis antibiotik tertentu, atau jika hamil atau menyusui.
Berdasarkan formulasi obat dan cara memerangi bakteri, ada dua jenis antibiotik – bakteriostatik (bacteriostatic) dan bakterisida (bactericide). Antibiotik Bakteriostatik Seperti namanya, antibiotik bakteriostatik menghambat pertumbuhan bakteri, alih-alih membunuhnya secara langsung dan karena bakteri patogen terhambat pertumbuhannya, sistem kekebalan tubuh dapat dengan mudah memerangi infeksi. Mekanisme kerja antibiotik bakteriostatik adalah dengan mengganggu sintesis protein pada bakteri penyebab penyakit, Contoh antibiotik bakteriostatik populer adalah spectinomycin (mengobati gonore), tetracycline (umum digunakan untuk infeksi), chloramphenicol (untuk semua jenis infeksi bakteri), dan macrolide (efektif untuk bakteri gram positif).
Antibiotik bakterisida mengandung senyawa aktif yang secara langsung membunuh bakteri. Untuk membunuh bakteri, antibiotik jenis ini menargetkan dinding sel luar, membran sel bagian dalam, serta susunan kimia bakteri. Contoh umum antibiotik bakterisida adalah penicillin (menyerang dinding sel luar), polymyxin (menargetkan membran sel), dan quinolone (mengganggu jalur enzim).
Info lebih lengkap tentang Obat - obatan dapat anda Lihat lebih lengkap dengan Cara :
Ternyata Satu jenis antibiotik tidak akan mampu membunuh semua baktreri !
Berikut ini Jenis-jenis Golongan Antibiotik Berdasarkan Fungsinya
Penicillins, contohnya penicillin V, flucloxacillin, and amoxicillin.
Cephalosporins, contohnya cefaclor, cefadroxil, cefalexin.
Tetracyclines, contohnya tetracycline, doxycycline, and minocycline.
Aminoglycosides, contohnya gentamicin, amikacin, and tobramycin.
Macrolides, contohnya erythromycin, azithromycin, and clarithromycin. Clindamycin.
Sulfonamides and Trimethoprim, contohnya co-trimoxazole.
Metronidazole and tinidazole.
Quinolones, contohnya ciprofloxacin, levofloxacin, and norfloxacin.
Antibiotik Sefalosporin, Antibiotik ini merupakan spektrum luas. Jenis antibiotik ini sangat efektif dalam pengobatan berbagai jenis infeksi yang lebih serius seperti: pneumonia,septicemia(infeksi darah),meningitis(infeksi lapisan terluar otak dan sumsum tulang belakag)
Contoh dari antibiotik sefalosporin yaitu cefixime dan cefalaxim. Apabila anda memiliki alergi terhadap penisilin anda kemungkinan bisa juga alergi terhadap sefalosporin. Efek dari antibiotik ini adalah ruam,diare,kejang perut,demam,dll.
Antibiotik Aminoglikosida, Antibiotik ini merupakan jenis yang sering digunakan untuk resep. Jika mengkonsumsi aminoglikosida secara terus menerus ,anda patut berwaspada karena aminoglikosida dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal maupun pendengaran. Oleh karena itu jenis antibiotik ini akan digunakan hanya untuk mengobati penyakit yang sangat serius seperti meningitis,genorhea,dll. Cara kerja aminoglikosida dengan cepat akan memecah sistem pencernaan. Amonoglikosida lebih sering diberikan melalui suntikan dan tetes.
Antibiotik Tetrasiklin, Antibiotik ini merupakan jenis lain antibiotik spektrum luas. Yang dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam infeksi seperti infeksi telinga tengah,pernapasan,saluran kemih,dll. Tetrasiklin juga merupakan salah satu obat antibiotik untuk pengobatan jerawat yang sudah parah atau yang kita kenal rosacea dengan bintik bintik dan kemerahan pada kulit. Ini dianggap cukup beracun sehingga banyak digunakan pada permukaan kulit saja. Tetrasiklin juga memiliki efek samping seperti kerusakan pada ginjal dan saraf.
Antibiotik Makrolida, Antibiotik makrolida memiliki manfaat mengobati infeksi dada dan paru paru. Makrolida juga menjadi pengobatan alternatif bagi sebagian besar orang orang yang memiliki riwayat alergi penisilin dan orang orang yang kebal terhadap obat penisillin. Contoh dari antibiotik makrolida seperti spiramisin dan eritromisin. Mual,diare,ganngguan pencernaan adalah salah satu efek samping dari antibiotik ini. Untuk itu wanita hamil dan menyusui tidak direkomendasikan untuk mengkonsumsi obat ini.
Antibiotik Fluroquinolones, Antibiotik ini adalah golongan terbaru dari anitibiotik. Satu satunya antibiotik yang secara langsung menghentikan sintetis DNA bakteri. Contoh fluroquinolones adalah ciprofloxacin dan floksasin. Kebanyakan obat ini diberikan secara oral(diminum langsung). Obat ini dianggap relatif lebih aman tetapi tidak direkomendasikan untuk wanita hamil dan anak anak karena diduga dapat mempengaruhi pertumbuhan tulang. Efek samping yang ditimbulkan fluroquinolones adalah mual,muntah,diare,dll.
Antibiotik Sulfonamida, Jenis obat ini sangatlah efektif untuk pengobatan ginjal. Namun juga dapat memiliki efek berbahaya pada ginjal. Pasien diharuskan untuk minum sejumlah besar air sebagai pencegah pembentukan kristal obat. Gantrisin adalah salah satu obat sulfa yang paling sering digunakan
Pada umumnya nama dagang atau merek diciptakan oleh perusahaan obat yang memproduksi obat. Sedangkan nama generik merupakan nama asli struktur kimia antibiotik itu sendiri. Misalnya amoxicillin (generik), memiliki banyak nama dangang seperti Yusimox, Etamox, Brodamox, dll tergantung produsen obat.
Mengapa Resep Antibiotik Biasanya Di Anjurkan Di habiskan ?
AKIBAT PENYALAHGUNAAN ANTIBIOTIK !!!
Mengonsumsi antibiotik yang salah baik dari segi jenis, dosis dan frekuensi,dapat mengakibatkan bakteri menjadi resisten. Resisten berarti bakteri tersebut beradaptasi dan berubah menjadi kebal terhadap antibiotik yang dulu mampu memusnahkannya. Hal ini sering terjadi akibat penyalahgunaan antibiotik. Tubuh yang terinfeksi oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik lebih sulit pulih dan diobati. Infeksi itu pun lebih mudah berkembang dan menyebabkan berbagai komplikasi.
Perhatian: Informasi dalam artikel ini bukanlah resep atau nasihat medis.