Bagaimana Cara Hidup Sehat Sampai Tua, Bebas penyakit, dan mengetahui pertolongan pertama ketika anda sakit - Simak Di Sini. ! Karena Hidup Akan Lebih Terasa Indah Jika Anda Sehat

HIDUP SEHAT DENGAN GADGET

Tampilkan postingan dengan label Kandungan Obat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kandungan Obat. Tampilkan semua postingan
Jenis dan Golongan Obat Antibiotik
MENCARI TAHU APA SAJA JENIS DAN GOLONGAN ANTIBIOTIK SERTA FUNGSINYA

Sebagai orang awam terhadap ilmu medis tentunya banyak sekali yang mempertanyakan apakah pada dasarnya obat Antibiotik itu memiliki mekanisme kerja dan fungsi yang sama walau pun merek dan nama patentnya berbeda - beda ? sebelum menjawab pertanyaan ini, Perlu anda pahami bahwa antibiotik itu sangat banyak macamnya yang terkadang dapat membingungkan, sehingga penting sekali mengetahui golongan antibiotik serta fungsinya masing-masing. berdasarkan Fungsinya Antibiotik merupakan salah satu jenis obat yang sering diresepkan untuk mengobati infeksi bakteri dan beberapa parasit tertentu. Ada banyak jenis antibiotik dengan berbagai nama dan merek, serta Penggolongan antibiotik berdasarkan mekanisme kerja nya. Setiap jenis antibiotik hanya bekerja terhadap beberapa jenis bakteri atau parasit tertentu. Cara kerja antibiotik mengobati infeksi bakteri bervariasi sesuai dengan jenis dari antibiotik itu sendiri, Inilah sebabnya mengapa antibiotik yang berbeda digunakan untuk mengobati berbagai jenis infeksi yang berbeda pula. Jenis-jenis Golongan Antibiotik dan Fungsinya Antibiotik merupakan salah satu jenis obat yang sering diresepkan untuk mengobati infeksi bakteri dan beberapa parasit tertentu. Obat ini sangat banyak macamnya yang terkadang dapat membingungkan, sehingga penting sekali mengetahui golongan antibiotik serta fungsinya masing-masing. Antibiotik merupakan golongan obat yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri seperti penyakit tipes, selulitis, bisul, dan beberapa infeksi oleh parasit tertentu. Antibiotik disebut juga sebagai antibakterial. Tersedia dalam bentuk sirup, tablet, kapsul, injeksi (suntik), krim atau salep dan lotion.

Untuk menentukan Pilihan antibiotik yang akan di gunakan tergantung pada infeksi bakteri yang menyebabkannya. Hal ini karena setiap antibiotik hanya efektif terhadap bakteri dan parasit tertentu. Misalnya, jika seseorang mengalami pneumonia, dokter tahu bakteri apa yang biasanya menyebabkan pneumonia. Sehingga dokter akan memilih antibiotik yang paling efektif membasmi jenis bakteri tersebut. Selain itu, ada faktor lain yang menjadi pertimbangan dalam memilih antibiotik, Antara lain: seberapa parah infeksinya, seberapa baik fungsi ginjal dan hati, jadwal dosis, obat lain yang diminum, efek samping, riwayat alergi terhadap jenis antibiotik tertentu, atau jika hamil atau menyusui.


Berdasarkan formulasi obat dan cara memerangi bakteri, ada dua jenis antibiotik – bakteriostatik (bacteriostatic) dan bakterisida (bactericide). Antibiotik Bakteriostatik Seperti namanya, antibiotik bakteriostatik menghambat pertumbuhan bakteri, alih-alih membunuhnya secara langsung dan karena bakteri patogen terhambat pertumbuhannya, sistem kekebalan tubuh dapat dengan mudah memerangi infeksi. Mekanisme kerja antibiotik bakteriostatik adalah dengan mengganggu sintesis protein pada bakteri penyebab penyakit, Contoh antibiotik bakteriostatik populer adalah spectinomycin (mengobati gonore), tetracycline (umum digunakan untuk infeksi), chloramphenicol (untuk semua jenis infeksi bakteri), dan macrolide (efektif untuk bakteri gram positif).

Antibiotik bakterisida mengandung senyawa aktif yang secara langsung membunuh bakteri. Untuk membunuh bakteri, antibiotik jenis ini menargetkan dinding sel luar, membran sel bagian dalam, serta susunan kimia bakteri. Contoh umum antibiotik bakterisida adalah penicillin (menyerang dinding sel luar), polymyxin (menargetkan membran sel), dan quinolone (mengganggu jalur enzim).


Info lebih lengkap tentang Obat - obatan dapat anda Lihat lebih lengkap dengan Cara :


Ternyata Satu jenis antibiotik tidak akan mampu membunuh semua baktreri !



Berikut ini Jenis-jenis Golongan Antibiotik Berdasarkan Fungsinya

Penicillins, contohnya penicillin V, flucloxacillin, and amoxicillin.

Cephalosporins, contohnya cefaclor, cefadroxil, cefalexin.

Tetracyclines, contohnya tetracycline, doxycycline, and minocycline.

Aminoglycosides, contohnya gentamicin, amikacin, and tobramycin.

Macrolides, contohnya erythromycin, azithromycin, and clarithromycin. Clindamycin.

Sulfonamides and Trimethoprim, contohnya co-trimoxazole.

Metronidazole and tinidazole.

Quinolones, contohnya ciprofloxacin, levofloxacin, and norfloxacin.


Antibiotik Penisilin, Antibiotik ini digunakan untuk mengobat infeksi tertentu, seperti : radang tenggorokan,infeksi kulit,infeksi dada,infeksi saluran kemih,mata,gigi,telinga. Penisilin yang sering digunakan adalah antibiotik amoxicillin dan flukloksasillin. Karena sering digunakan maka akan menimbulkan masalah bahwa beberapa jenis bakteri telah menjadi kebal. 2 dari 30 orang akan mengalami reaksi alergi setelah menggunakan obat penisilin dan sebagian orang akan mengalami reaksi alergi antibiotik yang cukup serius (anafilaksis). Penting untuk memberi tahu dokter atau profesional kesehatan yang sedang merawat anda jika anda mengalami reaksi alergi terhadap antibiotik penisilin. Seringkali untuk penggunaan penisilin diberikan dengan mengkombinasikan berbagai jenis antibiotik lainnya.

Antibiotik Sefalosporin, Antibiotik ini merupakan spektrum luas. Jenis antibiotik ini sangat efektif dalam pengobatan berbagai jenis infeksi yang lebih serius seperti: pneumonia,septicemia(infeksi darah),meningitis(infeksi lapisan terluar otak dan sumsum tulang belakag)
Contoh dari antibiotik sefalosporin yaitu cefixime dan cefalaxim. Apabila anda memiliki alergi terhadap penisilin anda kemungkinan bisa juga alergi terhadap sefalosporin. Efek dari antibiotik ini adalah ruam,diare,kejang perut,demam,dll.

Antibiotik Aminoglikosida,  Antibiotik ini merupakan jenis yang sering digunakan untuk resep. Jika mengkonsumsi aminoglikosida secara terus menerus ,anda patut berwaspada karena aminoglikosida dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal maupun pendengaran. Oleh karena itu jenis antibiotik ini akan digunakan hanya untuk mengobati penyakit yang sangat serius seperti meningitis,genorhea,dll. Cara kerja aminoglikosida dengan cepat akan memecah sistem pencernaan. Amonoglikosida lebih sering diberikan melalui suntikan dan tetes.


Antibiotik Tetrasiklin,  Antibiotik ini merupakan jenis lain antibiotik spektrum luas. Yang dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam infeksi seperti infeksi telinga tengah,pernapasan,saluran kemih,dll. Tetrasiklin juga merupakan salah satu obat antibiotik untuk pengobatan jerawat yang sudah parah atau yang kita kenal rosacea dengan bintik bintik dan kemerahan pada kulit. Ini dianggap cukup beracun sehingga banyak digunakan pada permukaan kulit saja. Tetrasiklin juga memiliki efek samping seperti kerusakan pada ginjal dan saraf.

Antibiotik Makrolida, Antibiotik makrolida memiliki manfaat mengobati infeksi dada dan paru paru. Makrolida juga menjadi pengobatan alternatif bagi sebagian besar orang orang yang memiliki riwayat  alergi penisilin dan orang orang yang kebal terhadap obat penisillin. Contoh dari antibiotik makrolida seperti spiramisin dan eritromisin. Mual,diare,ganngguan pencernaan adalah salah satu efek samping dari antibiotik ini. Untuk itu wanita hamil dan menyusui tidak direkomendasikan untuk mengkonsumsi obat ini.

Antibiotik Fluroquinolones, Antibiotik ini adalah golongan terbaru dari anitibiotik. Satu satunya antibiotik yang secara langsung menghentikan sintetis DNA bakteri. Contoh fluroquinolones adalah ciprofloxacin dan floksasin. Kebanyakan obat ini diberikan secara oral(diminum langsung). Obat ini dianggap relatif lebih aman tetapi tidak direkomendasikan untuk wanita hamil dan anak anak karena diduga dapat mempengaruhi pertumbuhan tulang. Efek samping yang ditimbulkan fluroquinolones adalah mual,muntah,diare,dll.

Antibiotik Sulfonamida, Jenis obat ini sangatlah efektif untuk pengobatan ginjal. Namun juga dapat memiliki efek berbahaya pada ginjal. Pasien diharuskan untuk minum sejumlah besar air sebagai pencegah pembentukan kristal obat. Gantrisin adalah salah satu obat sulfa yang paling sering digunakan

Pada umumnya nama dagang atau merek diciptakan oleh perusahaan obat yang memproduksi obat. Sedangkan nama generik merupakan nama asli struktur kimia antibiotik itu sendiri. Misalnya amoxicillin (generik), memiliki banyak nama dangang seperti Yusimox, Etamox, Brodamox, dll tergantung produsen obat.

Mengapa Resep Antibiotik Biasanya Di Anjurkan Di habiskan ?

Menurut wikipedia antibiotik Adalah segolongan mulekul, baik itu alami ataupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme. Khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Antibiotik di temukan oleh Alexander fleming, dengan Tak sengaja pada tahun 1928. Biasanya Bila dokter meresepkan antibiotik itu sudah Takaran untuk membunuh bakteri dan harus di habiskan Sebab kalau Tak di habiskan maka akan menyebabkan resistensi bakteri terhadap antibiotik, atau bakteri berubah untuk melindungi dirinya dari suatu antibiotik, bakteri akan menjadi lebih kuat dan Tak mempan terhadap antibiotik. Infeksi oleh bakteri yang resisten perlu antibiotik yang kuat dan lebih mahal. Jadi berhati-hatilah dalam meminum antibiotik. Bakteri yang resisten Dapat cepat menyebar ke anggota keluarga dan orang terdekat. Selama 30 tahun belum ada jenis antibiotik baru yang di kembangkan, yaitu, penicillin, cephalosporin, carbapenem, flouroquinolones. Akan tetapi bakteri terus berkembang.

Sebaiknya jangan membeli sendiri antibiotik tanpa resep dari dokter, Sebab antibiotik pun berbeda dan bermacam jenis dan dosisnya. Berbeda antibiotik berbeda pula penyakitnya.!!! Sangat penting untuk mendapatkan petunjuk dan anjuran dari dokter sebelum mengonsumsi obat antibiotik. Yang perlu diketahui adalah jenis antibiotik bukan hanya ada satu. Perbedaan infeksi membutuhkan jenis dan dosis antibiotik yang berbeda-beda.

Antibiotik sebaiknya tidak digunakan sebagai pengobatan atas inisiatif pribadi karena bisa berdampak buruk pada kesehatan di masa depan. Terdapat banyak faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan jenis pengobatan untuk infeksi yang Anda alami. Oleh karena itu, penggunaan antibiotik yang aman selalu memerlukan petunjuk dari dokter yang telah terlatih secara medis untuk bertahun-tahun. Sebelum meresepkan antibiotik kepada seorang pasien, perlu dipastikan terlebih dahulu bahwa infeksi itu disebabkan oleh bakteri atau parasit yang memang bisa dimusnahkan oleh antibiotik. Jika infeksi disebabkan oleh virus, maka mengonsumsi antibiotik bukan hanya langkah yang salah dan tidak efektif tapi bisa merugikan tubuh kita. Salah satu alasan mengapa antibiotik termasuk dalam golongan obat resep dan bukan obat bebas adalah karena hanya dokter yang bisa membedakan infeksi akibat bakteri dari infeksi lain yang tidak bisa ditangani oleh antibiotik.

AKIBAT PENYALAHGUNAAN ANTIBIOTIK !!!

Mengonsumsi antibiotik yang salah baik dari segi jenis, dosis dan frekuensi,dapat mengakibatkan bakteri menjadi resisten. Resisten berarti bakteri tersebut beradaptasi dan berubah menjadi kebal terhadap antibiotik yang dulu mampu memusnahkannya. Hal ini sering terjadi akibat penyalahgunaan antibiotik. Tubuh yang terinfeksi oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik lebih sulit pulih dan diobati. Infeksi itu pun lebih mudah berkembang dan menyebabkan berbagai komplikasi.



Perhatian: Informasi dalam artikel ini bukanlah resep atau nasihat medis.
Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.
Obat Acyclovir Zat Antivirus Herpes Simpleks

MENCARI TAHU MANFAAT DAN KEGUNAAN OBAT ACYCLOVIR ZAT ANTIVIRUS HERPES SIMPLEKS


Acyclovir Merupakan zat antivirus yang Cukup aktif dan mampu melawan virus herpes simpleks yang biasa kita kenal dengan singkatan  HSV tipe I dan II, serta  mampu melawan virus varisela zoster, cara kerjanya yaitu ketika zat Acylovir ini masuk ke dalam sel yang terinfeksi, maka Acyclovir akan segera terfosforilasi dan kemudian membentuk senyawa aktif Acyclovir trifosfate. Seperti kita ketahui bersama bahwa Penyakit Herpes itu merupakan infeksi yang disebabkan virus pada kulit. Terkenal dengan Nama Herpes Simplex Virus adalah salah satu virus yang menyebabkan penyakit herpes pada manusia. Di Dunia kedokteran ada tercatat Tujuh jenis virus yang dapat menyebabkan munculnya penyakit herpes pada manusia, diantaranya yaitu Herpes Simplex Virus, Varizolla Zoster Virus / VZV, Cytomegalovirus / CMV, Epstein-Barr Virus / EBV, dan Human Herpes Virus tipe 6 atau di singkat HHV-6, serta tipe 7 / HHV-7, dan satu lagi yang tipe 8 / HHV-8.


Semua virus herpes ini memiliki ukuran dan morfologi yang hampir sama dan semuanya akan melakukan replikasi pada inti sel. Jika kita dalami lagi, maka Herpes Simplex Virus sendiri itu dapat dibagi lagi menjadi dua tipe, yaitu Herpes Simplex Virus tipe 1 atau HSV-1, dimana virus jenis ini yang biasanya menyebabkan infeksi pada mulut, mata, dan wajah, selanjutnya yang kedua adalah Herpes Simplex Virus tipe 2 atau HSV-2, Virus inilah yang menyebabkan infeksi pada alat kelamin atau genital. Namun perlu di waspadai bahwa kedua tipe virus tersebut dapat menyebabkan penyakit dibagian tubuh manapun. HSV-1 bisa menyebabkan munculnya gelembung berisi cairan yang terasa nyeri pada mukosa mulut, wajah, dan sekitar mata. sedangkan HSV-2 atau herpes genital ditularkan melalui hubungan intim dan juga menyebakan gelembung berisi cairan yang terasa nyeri pada membran mukosa alat kelamin. Infeksi pada alat kelamin biasanya terlihat seperti bercak dengan luka. Umumnya mungkin akan muncul iritasi, penurunan kesadaran dan disertai rasa pusing serta kekuningan pada kulit / jaundice bahkan sampai kesulitan bernapas atau kejang - kejang. Infeksi ini biasanya akan hilang dalam 2 minggu dimana infeksi  Episode pertama atau infeksi pertama dari infeksi HSV ini adalah yang paling berat dan dimulai setelah masa inkubasi 4-6 hari. Tahap awal proses tergantung pada enzim viral-coded thymidine kinase. Di sinilah Obat Acyclovir trifosfate akan berperan sebagai inhibitor dan sebagai substrat palsu untuk herpes-specified DNA polymerase yang dapat  mencegah sintesis DNA virus tanpa mempengaruhi proses sel normal.


Contoh Produknya Acyclovir di pasaran dapat anda Lihat di -->   SINI



Bagi Anda yang mempunyai keluhan akibat infeksi herpes atau bagi anda yang sudah terinfeksi virus ini tetap harus berhati-hati, karena penggunaan Acyclovir mempunyai kontraindikasi di antaranya pada penderita gangguan ginjal dan usia lanjut harus berhati-hati ketika menggunakannya. Sementara untuk ibu hamil belum diketahui dengan pasti apa bahayanya, namun dalam jumlah yang cukup signifikan bisa saja tersalur melalui ASI, meskipun demikian menurut para ahli kesehatan masih cukup aman untuk digunakan, untuk memastikannya silahkan anda konsultasikan hal tersebut dengan dokter anda !


Simak Video Ilustrasi Ilmiahnya tentang melokul Zat Acyclovir dalam melawan Virus herpes simpleks  :







APA ITU OBAT ACYCLOVIR ZAT ANTIVIRUS HERPES SIMPLEKS


Pengenalan yang pertama memang harus kita  lakukan adalah terkait nama obat Acyclovir ketika sudah beredar di pasaran bisa saja menggunakan nama lain yang umumnya merupakan merek dagangnya. Nama lain dari Acyclovir yang ada di pasaran di antaranya yaitu : zoter, zovirax, zyrolax, acifar, clinofir, clopres, licovir, herax, danovir, herpiclof, molavir, vireth, scanovir, temiral, viralis, palovir, quavir , vircovir, virules, dan bisa jadi ada nama yang belum terdata. Sehingga bila Anda mencari obat acyclovir namun Anda tidak menemukannya sementara Anda hanya menemukan nama-nama tadi, maka Anda jangan bingung, karena itu adalah obat yang sama.

Bagimana Proses Pengobatan infeksi yang disebabkan oleh herpes simpleks pada kulit dan membran mukosa, termasuk herpes genital awal dan kambuhan, pencegahan infeksi herpes simpleks pada pasien immuno-compromised. Pengobatan infeksi herpes zoster.


Dosis :

Dewasa

Pengobatan infeksi herpes simpleks : 200 mg, 5 kali sehari dengan interval 4 jam, selama 5 hari, tetapi pada beberapa infeksi awal pengobatan dapat diperpanjang. Pada pasien immuno-compromised (misal : setelah transplantasi sumsum) atau pasien dengan gangguan absorpsi usus, dosis dapat ditingkatkan menjadi 400 mg. Pemberian obat harus diberikan sesegera mungkin setelah terjadinya infeksi.
    
Pencegahan herpes simpleks : 200 mg, 4 kali sehari dengan interval 6 jam. Pada beberapa pasien immuno-compromised (misal : setelah transplantasi sumsum) atau pasien gangguan absorpsi usus, dosis dapat ditingkatkan menjadi 400 mg. (lama pemberian disesuaikan dengan periode resiko dihapus saja, gak jelas artinya)

Pengobatan herpes zoster : 800 mg, 5 kali sehari dengan interval 4 jam, selama 7 hari.

Anak-anak

Anak-anak usia lebih dari 2 tahun : sama dengan dosis dewasa
Anak-anak usia kurang dari 2 tahun : diberikan setengah dosis dewasa untuk pengobatan herpes simpleks dan profilaksis herpes simpleks.

Efek Samping :
  • Gatal-gatal / ruam kulit
  • Gangguan gastrointestinal, termasuk : mual, muntah, diare, dan nyeri abdominal.
  • Peningkatan sementara enzim-enzim yang berhubungan dengan bilirubin dan hati, sedikit peningkatan urea dan kreatinin darah; sakit kepala, reaksi neurologis dan fatigue.

Peringatan dan Perhatian Penggunaan Obat / Zat Acyclovir

Acyclovir pada wanita hamil hanya diberikan apabila pertimbangan manfaat lebih besar dari pada risiko yang mungkin timbul.

Hati-hati pemberian pada wanita yang sedang menyusui.
Jangan diberikan melebihi dosis, frekuensi penggunaan, dan lamanya pengobatan yang dianjurkan.


Interaksi Obat Acyclovir

Probenecid meningkatkan t ½ obat dan AUC plasma.


Acyclovir adalah obat yang aktif melawan virus herpes tapi belum mampu untuk dapat memberantasnya sampai tuntas. Selain pada virus herpes, acyclovir juga digunakan pada infeksi cacar air (varicella zoster) atau infeksi herpes simpleks pada kulit dan selaput lendir. Pada orang yang menderita sariawan akibat virus herpes, obat acyclovir dapat digunakan dengan dioleskan di mulut. Dan bisa juga dioleskan pada bagian mata akibat infeksi herpes simpleks, atau bisa juga dikombinasikan dengan terapi sistemik pada herpes optalmika yang disebabkan oleh infeksi herpes zoster. Obat acyclovir tesedia dalam beberapa sediaan, yaitu tablet 200 mg, obat acyclovir 400 mg berupa tablet, salep mata (Salep Acyclovir 3%) dan salep kulit (Salep Acyclovir 5%).

Obat ocyclovir dalam pemakainnya terdapat perbedaan dosis tergantung dari keluhan, usia dan lamanya perbaikan. Bila setelah 5 hari belum terlihat perbaikan maka dosis dapat dinaikkan terutama pada pasien dengan imunokompromise atau gangguan penyerapan.

Untuk herpes simpleks genital, dosis yang diberikan adalah 200 mg yang diminum 5 kali sehari atau 400 mg diminum 3 kali sehari selama 5 hari. Sementara untuk pasien imunokompromise atau pengidap HIV dosisnya lebih tinggi yaitu obat acyclovir  400 mg yang diminum 5 kali sehari selama 7 – 10 hari pada infeksi pertama. Sedang untuk infeksi kambuhan, dosisnya adalah 400 mg yang diminum 3 kali sehari selama 5 – 10 hari.

Untuk herpes simpleks pencegahan kekambuhan dosisny adalah 200 mg yang diminum 4 kali sehari atau 400 mg dengan 2 kali sehari. Dosis dapat ditunnkan atau dinaikkan. Pada saat terapi penyakit masih muncul maka dosisi dinaikkan sampai 400 mg untuk 3 kali sehari. Dan setiap 6 – 12 bulan, terapi dihentikan untuk melakukan melihat perkembangan dan dilakukan penilaian kembali.

Sementara untuk infeksi yang berbeda maka dosisnya juga berbeda sehingga tetap perlu berkonsultasi dengan dokter. Sedangkan efek samping dari obat acyclovir 400 mg di antaranya adalah; lemas, ruam, gatal-gatal, mual, muntah, nyeri perut, diare, sakit kepala dan menjadi sensitif terhadap cahaya.


Gelala yang timbul, meliputi nyeri, inflamasi dan kemerahan pada kulit (eritema) dan diikuti dengan pembentukan gelembung-gelembung yang berisi cairan. Cairan bening tersebut selanjutnya dapat berkembang menjadi nanah, diikuti dengan pembentukan keropeng atau kerak (scab). Setelah infeksi pertama, HSV memiliki kemampuan yang unik untuk bermigrasi sampai pada saraf sensorik tepi menuju spinal ganglia, dan berdormansi sampai diaktifasi kembali. Pengaktifan virus yang berdormansi tersebut dapat disebabkan penurunan daya tahan tubuh, stress, depresi, alergi pada makanan, demam, trauma pada mukosa genital, menstruasi, kurang tidur, dan sinar ultraviolet.


Terapi acyclovir adalah Herpes Simplex Virus (HSV) - di bawah Pengawasan Dokter


Tujuan Terapi

Tujuan terapi acyclovir adalah mencegah dan mengobati infeksi Herpes Simplex Virus (HSV), menyembuhkan gejala yang muncul, seperti kemerahan (eritema), gelembung-gelembung berisi cairan, keropeng atau kerak.


Strategi Terapi

Strategi terapi farmakologis (terapi dengan obat) dalam pengobatan penyakit herpes adalah dengan menggunakan obat-obat antivirus. Pengobatan baku untuk herpes adalah dengan acyclovir, valacyclovir, famcyclovir, dan pencyclovir yang dapat diberikan dalam bentuk krim, pil atau secara intravena (infus) untuk kasus yang lebih parah. Semua obat ini paling berhasil apabila dimulai dalam tiga hari pertama setelah rasa nyeri akibat herpes mulai terasa. Semua antivirus yang digunakan pada infeksi Herpes Simplex Virus (HSV) bekerja dengan menghambat polimerase DNA virus. Acyclovir, ganciclovir, famciclovir, dan valacyclovir secara selektif di fosforilasi menjadi bentuk monofosfat pada sel yang terinfeksi virus. Bentuk monofosfat tersebut selanjutnya akan diubah oleh enzym seluler menjadi bentuk trifosfat, yang akan menyatu dengan rantai DNA virus. Acyclovir, famciclovir, dan valacyclovir terbukti efektif dalam memperpendek durasi dari gejala dan lesi.

Dosis dan Aturan Pakai Acylovir

  • Pengobatan herpes simplex: 200 mg (400 mg pada pasien yang memiliki respon imun yang diperlemah / immunocompromised atau bila ada gangguan absorbsi  ) 5 kali sehari, selama 5 hari. Untuk anak dibawah 2 tahun diberikan setengah dosis dewasa. Diatas 2 tahun diberikan dosis dewasa.

  • Pencegahan herpes simplex kambuhan, 200 mg 4 kali sehari atau 400 mg 2 kali sehari, dapat diturunkan menjadi 200 mg 2atau 3 kali sehari dan interupsi setiap 6-12 bulan.

  • Pencegahan herpes simplex pada pasien immunocompromised, 200-400 mg 4 kali sehari. Anak dibawah 2 tahun setengah dosis dewasa. Diatas 2 tahun dosis sama dengan dosis orang dewasa.

Efek Samping Acylovir


Pada sistem saraf pusat dilaporakan terjadi malaise (perasaan tidak nyaman) sekitar 12% dan sakit kepala (2%).pada system pencernaan (gastrointestinal) dilaporkan terjadi mual (2-5%), muntah (3%) dan diare (2-3%).

Resiko Khusus Penggunaan Acyclovir

Penggunaan Acyclovir pada wanita hamil masuk dalam kategori B. Efek teratogenik dari Acyclovir tidak diteliti pada studi dengan hewan percobaan. Acyclovir terbukti dapat melewati plasenta manusia.Tidak ada penelitian yang cukup dan terkontrol pada wanita hamil. pada tahun 1984-1999 diadakan pendaftaran bagi wanita hamil, dan dari hasil yang terlihat tidak ada peningkatan kelahiran bayi yang cacat karena penggunaan Acyclovir . tetapi karena tidak semua wanita hamil mendaftarkan diri dan kurangnya data dalam jangka waktu yang panjang, maka direkomendasikan penggunaan acyclovir untuk wanita hamil disertai peringatan dan diberikan jika benar-benar-benar diperlukan. Acyclovir juga dapat masuk ke dalam air susu ibu, karena itu penggunaan pada ibu menyusui harus disertai peringatan.

--> NEXT


Penggunaan Zat Acyclovir  HARUS DENGAN RESEP DOKTER !

Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini boleh digunakan hanya untuk penjelasan ilmiah, bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis.

Perhatian: Informasi dalam artikel ini bukanlah resep atau nasihat medis.
Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.



Kandungan Cimetidin dan Ranitidin merupakan antihistamin paenghambat reseptor Histamin H2 yang berperan dalam efek histamine terhadap sekresi cairan lambung. Berdasarkan dari mekanisme kerja kedua obat tersebut kita akan melihat profil dari masing-masing obat tersebut.

Cimetidin dan ranitidine adalah antihistamin penghambat reseptor H2 secara selektif dan reversible. Reseptor H2 akan merangsang sekresi cairan lambung srhingga pada pemberian Cimetidin dan ranitidine sekresi cairan lambung dihambat. Pengaruh fisiologi cimetidin dan ranitidine terhadap reseptor H2 lainnya, tidak begitu penting.walaupun tidak lengkap cimetidin dan ranitidine dapat menghambat sekresi cairan lembung akibat rangsangan obat muskarinik atau gastrin. Cimetidin dan ranitidine mengurangi volume dan kadar ion hydrogen cairan lambung. Penurunan sekresi asam lambung mengakibatkan perubahan pepsinogen menjadi pepsin menurun. Cimetidine dengan cepat diabsorbsi setelah pemberian oral dan konsentrasi puncak dalam plasma dicapai dalam waktu 45-90 menit setelah pemberian. Cimetidine diekskresikan melalui urin.





Bioavailabilitas cimetidin sekitar 70 % sama dengan pemberian IV atau Im ikatan protein plasma hanya 20 %.Absorbsi simetidin diperlambat oleh makanan sehingga cimetidin diberikan bersama atau segera setelah makan dengan maksud untuk memperpanjang efek pada periode paska makan. Absorpsi terutama terjadi pada menit ke 60 -90. Cimetidin masuk kedalam SSP dan kadarnya dalam cairan spinal 10-20% dari kadar serum. Sekitar 50-80% dari dosis IV dan 40% dari dosis oral diekskresi dalam bentuk asal dalam urin. Masa paruh eliminasi sekitar 2 jam.


cara alternatf untuk mengatasi ganguan saluran cerna dan magg akut bisa dengan mengkonsumsi obat-obatan tradisional atau herbal, obat - obatan herbal alami yang cocok bisa anda baca selengkapnya di  -->  SINI


Ranitidine

Bioavailabilitas ranitidine yang diberikan secara oral sekitar 50% dan meningkat pada pasien penyakit hati. Masa paruhnya kira-kira 1,7 -3 jam pada orang dewasa, dan memanjang pada orang tua dan pasien gagal ginjal. Pada pasien penyakit hati masa paruh ranitidine juga memanjang meskipun tidak sebesar pada ginjal.Pada ginjal normal, volume distribusi 1,7 L/kg sedangkan klirens kreatinin 25-35 ml/menit. Kadar puncak plasma dicapai dalam 1-3 jam setelah penggunaan ranitidine 150 mg secara oral, dan terikat protein plasma hanya 15 %. Ranitidine mengalami metabolism lintas pertama di hati dalam jumlah yang cukup besar setelah pemberian oral. Ranitidine dan matabolitnya diekskresi terutama melalui ginjal, sisanya melalui tinja. Sekitar 70% dari ranitidine yang diberikan IV dan 30 % yang diberikan secara oral diekskresi dalam urin dalam bentuk asal.

Cimetidin terikat ole sitokrom P-450 sehingga menurunkan aktivitas enzim mikrosom hati, sehingga obat lain akan terakumulasi bila diberikan bersama Cimetidin. Contohnya: warfarin, fenitoin, kafein, fenitoin, teofilin, fenobarbital, karbamazepin, diazepam, propanolol, metoprolol dan imipramin. Simetidin dapat menghambat alkhohol dehidrogenase dalam mukosa lambung dan menyebabkan peningkatan alkohol serum. Obat ini tak tercampurkan dengan barbiturat dalam larutan IV. Simetidin dapat menyebabkan berbagai gangguan SSP terutama pada pasien lanjut atau dengan penyakit hati atau ginjal.
Ranitidin lebih jarang berinteraksi dengan obat lain dibandingkan dengan simetidin. Nifedin, warfarin, teofilin dan metoprolol dilaporkan berinteraksi dengan ranitidin. Selain menghambat sitokrom P-450, Ranitidin dapat juga menghambat absorbsi diazepam dan mengurangi kadar plasmanya sejumlah 25%. Sebaiknya obat yang dapat berinteraksi dengan ranitidin diberi selang waktu minimal 1 jam. Ranitidin dapat menyebabkan gangguan SSP ringan , karena lebih sukar melewati sawar darah otak dibanding simetidin.

Keduanya digunakan untuk mengobati tukak lambung dan tukak duodenum. Akan tetapi manfaat terapi pemeliharaan dalam pencegahan tukak lambung belum diketahui secara jelas.
Efek penghambatannya selama 24 jam, Cimetidin 1000 mg/hari menyebabkan penurunan kira-kira 50% dan Ranitidin 300 mg/hari menyebabkan penurunan 70% sekresi asam lambung; sedangkan terhadap sekresi malam hari, masing-masing menyebabkan penghambatan 70% dan 90 %

Indikasi : Pengobatan tukak usus, tukak lambung aktif, refluks gastroesophagus yang erisif, hipersekresi patologis seperti pada sindrom zollinger, Ellison, mastosis sistemik, adenoma endokrin multiple.
Dosis
·         Pengobatan tukak usus 800 mg/ hari, malam hari atau 300 mg 4x sehari atau 400 mg 2x sehari saat pagi dan sebelum tidur selama 4-6 minggu.
·         Dosis perawatan 400 mg sekali sehari sebelum tidur selama 400 mg sekali sehari sebelum tidur
·         Tukak lambung aktif 800 mg 2x/ hari atau  400 mg 4x sehari selama 12 minggu
·         Hipersekresi patologis 300 mg 4x sehari
Komposisi : Dos tablet 200 mg Rp. 6.560,-
Nama Paten : Corsamed (Corsa), Sanmetidin (sanbe farma), ulsikur (Klabe Farma)
Efek Samping : Kadang-kadang terjadi nyeri kepala, malaise, mialgia, mual, diare, pruritus, libido menurun, impotent, gynecomastia.
Kontra Indikasi : Penderita yang hipersensitif
Interaksi Obat : Antasida dan metoklopramid akan mengurangi ketersediaan hayati simetidin sekitar 25%, karena itu sebaiknya diberikan jarak waktu pemberian sekurang-kurangnya 1 jam.
Cara Kerja Obat : Simetidin adalah antihistamin penghambat reseptor H2 secara selektif dan reversible. Penghambat reseptor H2 akan menghambat sekresi asam lambung, baik pada keadaan istirahat maupun setelah perangsangan oleh makanan, histamine, pentagastrin, insulin dan kafein.
Pada pemberian oral, simetidin diabsorbsi dengan baik dan cepat, tetapi sedikit berkurang bila ada makanan atau antasida. Kadar puncak dalam plasma dicapai dalam 1-2 jam setelah pemberian, dengan waktu paruh 2-3 jam. Simetidin diekresikan sebagian besar bersama urin dan sebagian kecil bersama feses.
Perhatian
·         Pemberian harus hati-hati pada wanita hamil dan menyusui, sebaiknya tidak diberikan pada anak-anak  dibawah usia 16 tahun
·         Pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal (creatinine clearance <30ml/ menit) dosis sebaiknya dikurangi
·         Pada penderita anephric (penderita dengan creatinine clearance <15ml/ menit) dosis 400mg/ hari dalam 2x pemberian
·         Kadar simetidin dalam darah dapat dikurangi oleh hemodialisa pengobatan sebaiknya diberikan pada akhir dialysis
·         Hati-hati pemakaian pada orang tua
·         Kemuungkinan adanya keganasan lambung hendaknya diperhitungkan terlebih dahulu, karena gejala-gejalanya dapat tertutupi oleh pengobatan dengan simetidin.
Untuk Sediaan : Tablet 200 mg
Keamanan untuk Ibu Hamil: Keamanannya selama kehamilan belum terbukti. Simetidin diekresikan kedalam ASI, sebagai patokan “jangan menyusui bila penderita sedang dalam pengobatan”.

INDIKASI :
-      Pengobatan jangka pendekuntuk usus 12 jari tukak aktif
-      Terapi pemeliharaan tukak usus 12 jari pada pengurangan dosis setelah penyembuhan tukak aktif.
-      Pengobatan jangka pendek tukak lambung aktif yang jinak.
-      Pengobatan refluks gastroesofagus erosif.
-      Pencegahan pendarahan saluran pencernaan bagian alas pada penderitayang kritis.
-      Pengobatan keadaan hipersekresi patologis misalnya: sindroma Zollinger-Ellson, mastositosis sistemikdan adenoma endokhn multiple.


KONTRA INDIKASI :

Pas'enyanghipersensitilterhadap cimetidine

EFEKSAMPING
-      Pada saluran pencernaan idiareringan
-      Pada susunan saral pusat: sakit kepala, pusing, mengantuk, mental kebingungan, agitasi, psikosis, depresl, cemas, halusinasi.
-      Pada sistem endokrin: ginekomastia.
-      Pada sistem hematologi: penurunan {umlah sel darah putjh, agtanukisitosis, Irombosilopenia, anemia aplasik atau pansitopenia yang jarang.
-      Hipersensif I: demam dan reaksi alergi termasuk anafriaksis.
-      Pada sistem kardiovaskuler:bradikardia dan takikardia (jarang terjadi).
-      Ginjal: peningkatan krealinin plasma, net itis interstitial, retensi urin.


DOSIS
-     Untuk tukak usus 12 jari yang aktif
800 mg, 1 kali sehari pada malam hari. Atau300mg 4 kali sehari padasaatmakan dan malam sebelum tidur. Atau 400 mg 2 kali sehari pagi hari dan malam sebelum tidur. Lama pengobatan 4 hingga 6 minggu. Pemberian dengan antasida sebaiknya diberikan sesuai Kebutuhan untuk mengurangi rasa sakit, akan tetapi pemberian bersamaan dengan antasid tjdak dianjurkan karena antasid dapat mempengaruhi absorbs! cimetidine.
-     Terapipemeliharaantukakusus12jari: 400 mg, 1 kali sehari malam hah sebelum tidur.
-     Pengobatan tukak lambung aktif yang jinak 800 mg, 1 kali sehari malam hari sebelum tidur atau 300 mg 4 kali sehari pada saat makan dan sebelum tidur selama 6-8 minggu.
-     Pengobatan refluks gastroesofagus erosif. 1600 mg sehari dalam dosis terbagi. (800 mg 2 kali sehari atau 400 mg 4 kai sehari) selama 12 minggu.
-     Pengobatan pada keadaan hipersekresi patologis 300 mg 4 kali sehari pada saat makan dan sebelum tidur. Pada beberapa penderita Mia diperlukan dapal diberikan dosis lebih besar lebih sering, sesuai dengan kebutuhan tetapi tjdak boleh melebihi 2,4 g sehari

OVER DOSIS

Studi pada hewan menunjukkan dosis toksik ditandai dengan kegagalan sistem pemafasan dan takikardia. Keadaan ini dapat ditanggulangi dengan pemberian
-     i-Moker dan bantuan pernapasan.

INTERAKSI OBAT

Cimetidine dapat mengurangi metabolisme anlikoagulan kumarin, feniioin, ptopanotol, nifedipin, klordiazepoksk), diazepam, antkfepresan trisiklik, lidokain, teoflin dan metonidazol, akibatnya akan menghambat eliminasi dan meningkatkan konsentrasi obat-obatan ini dalam darah.


Bagitu Pula dengan Ranitidin adalah obat yang diindikasikan untuk sakit maag. Pada penderita sakit maag, terjadi peningkatan asam lambung dan luka pada lambung. Hal tersebut yang sering kali menyebabkan rasa nyeri ulu hati, rasa terbakan di dada, perut terasa penuh, mual, banyak bersendawa ataupun buang gas.

Di dalam lambung, ranitidin akan menurunkan produksi asam lambung tersebut dengan cara memblok langsung sel penghasil asam lambung. Ranitidin sebaiknya diminum sebelum makan sehingga saat makan, keluhan mual penderita telah berkurang. Ranitidin dianggap lebih potensial dibandingkan antasida (obat maag yang sering ditemui dijual bebas di apotek ataupun warung). Bila sakit maag cukup berat atau gejala tidak membaik dengan antacida, biasanya ranitidin akan diresepkan.

Selain untuk sakit maag, ranitidin juga dapat digunakan untuk pengobatan radang saluranan pencernaan bagian atas (kerongkongan), dan luka lambung. Ranitidin termasuk kedalam obat maag yang aman. Pada beberapa kondisi berikut ranitidin sebaiknya tidak diberikan, yakni:

    Riwayat alergi terhadap ranitidin;
    Ibu yang sedang menyusui;
    Pemberian ranitidin juga perlu diawasi pada kondisi gagal ginjal.


EFEK SAMPING

Efek samping yang ditimbulkan sangat jarang ditemukan. Adapun efek samping tersebut beserta  persentase frekuensi kemunculannya adalah sebagai berikut:

    Sakit kepala (3%);
    Sulit buang air besar (<1%);
    Diare (<1%);
    Mual (<1%);
    Nyeri perut (<1%);
    Gatal-gatal pada kulit (<1%).


DOSIS

Ranitidin tersedia dalam sediaan sirup, tablet, maupun cairan suntikan. Ranitidin juga tersedia sebagai obat generik maupun obat paten.

Ranitidin dalam bentuk tablet tersedia dalam ukuran dosis 75 mg, 150 mg, dan 30 mg. Ranitidin dalam bentuk sirup tersedia dalam ukuran dosis 15 mg/ml. Sedangkan ranitidin dalam bentuk cairan untuk disuntikan tersedia dalam ukuran dosis 1 mg/ml dan 25 mg/ml. Cairan suntikan tersebut dapat disuntikan langsung ke dalam pembuluh darah atau ke dalam otot.

Dosis ranitidin untuk orang dewasa ialah 150 mg dua kali sehari atau 300 mg sekali sehari. Untuk peradangan kerongkongan, ranitidin dapat diberikan hingga 150 mg tiga kali sehari. Dosis untuk anak-anak ialah 2-4 mg/kg berat badan dua kali sehari. Dosis maksimal untuk anak-anak ialah 300 mg sehari


Manfaat dan kegunaan obat sakit maag ranitidin secara umum adalah sebagai indikasi ulkus duodenum, ulkus lambung dan hipersekresi gastrointestinal (GI) patologikal. Penyakit yang mengindikasi penggunaan obat sakit maag di atas, keberadaannya cukup tinggi di masyarakat. Karenanya wajar jika tingginya pengidap atau penderita berbanding lurus dengan penggunaan ranitidin.
Manfaat dan Kegunaan Obat Sakit Maag Ranitidin

Manfaat dan kegunaan obat sakit maag ranitidin, pada dasarnya bisa diperoleh melalui resep dokter sebagai bahan terapi utama atau pendukung.

Obat sakit maag ranitidin digunakan secara oral untuk terapi dan pemeliharaan ulkus dudenum dan ulkus lambung, juga dalam manajemen kondisi hipersekresi gastrointestinal (GI) patologis. Selain itu sering juga dimanfaatkan sebagai terapi pemeliharaan dalam pencegahan kambuhnya esofagitis erosif.

Terapi ulkus duodenum

Pada ulkus duodenum yang aktif yang dikonfirmasi dengan radiografi atau endoskopi, ranitidin oral biasa digunakan sebagai terapi jangka pendek. Sedangkan pada ulkus duodenum parah yang diidap oleh pasien dewasa yang menjalani perawatan di rumah sakit, ranitidin parenteral bisa digunakan. Dengan catatanjika  terapi oral tidak memadai.

Khasiat dan keamanan ranitidin dalam terapi jangka panjang ulkus duodenum, sebenarnya baru diketahui setelah penggunaan 8 minggu, kendati demikian, terapi ini tidak menjamin tercegahnya kekambuhan.

Untuk terapi pemeliharaan usus duodenum setelah proses penyembuhan, ranitidin bisa digunakan dengan dosis rendah untuk mencegah kambuh. Dalam studi terkontrol, ulkus duodenum biasanya kambuh setelah 4, 8 dan 12 bulan setelah sembuh.

Kondisi hipersekresi GI patologis

Pada kondisi hipersekresi GI patologis seperti zolinger ellison syndrome (ZES), hipersekresi paska rekresi usus dan mastosiosis sistemik, ranitidin oral dan intravena bisa digunakan.

Infush intravena ratidin pada pasien ZES yang dilakukan secara kontinue selama 15 hari, dapat mengendalikan asam lambung hingga 10 mEq/jam. Untuk menghasilkan efek yang panjang dari penggunaan ranitidin ini, antimuskarinik seperti iodida isopropamide dan antimukskarinik bisa digunakan secara bersamaan.

Untuk terapi ulkus lambung , ranitidin oral bisa digunakan. Dalam terapi ini, 60 hingga 70 % pasien pada umumnya sembuh setelah mengonsumsi ranitidin selama 4 minggu dan 70 hingga 80% setelah 6 minggu.

Seperti itulah uraian singkat tentang manfaat dan kegunaan obat sakit maag ranitidin. Mengingat obat ini digunakan secara kontinue dan dalam jangka waktu yang cukup lama, maka pemeriksaan dan kontrol dokter sangatlah diperlukan. Hal itu untuk mencegah efek samping yang tidak diinginkan dari penggunaannya.


--> SELANJUTNYA

PENGUNAAN OBAT INI HARUS DENGAN RESEP DOKTER !!!

Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini boleh digunakan hanya untuk penjelasan ilmiah, bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis.

Perhatian: Informasi dalam artikel ini bukanlah resep atau nasihat medis.
Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.



Amoksisilin (Amoxicicilin) Secara umum di kenal sebagai Obat Anti Infeksi, namun masih banyak kalangan awam yang belum paham benar tentang manfaat serta indikasi efek samping dari penggunaan Amoksisilin ketika dipergunakan dalam takaran dosis yang tidak tepat. Amoksisilin / amoxicillin adalah obat antibiotik yang paling umum dan sering digunakan, oleh sebab itulah kita akan mencoba mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi dari berbagai sumber tentang manfaat dan efek samping obat Amoksisilin tersebut.

Sebelum kita mengetahui apa manfaatnya, sebaiknya  kita pahami dulu adalah bahwa obat Amoksisilin adalah turunan penisilin semi sintetik dan bersifat stabil dalam suasana asam lambung. Amoksisilin diabsorpsi dengan cepat dan bekerja dengan baik pada saluran pencernaan makanan bahkan tidak tergantung adanya makanan di dalam lambung,  Amoksisilin akan diekskresikan dalam bentuk tidak berubah pada urin, Ekskresi akan dihambat saat pemberian bersamaan dengan Probenesid, sehingga akan memperpanjang efek terapinya. Amoksisilin ini juga aktif terhadap organisme gram positif dan gram negatif, sehingga kandungan pada obat Amoksisilin ini dapat digunakan untuk pengobatan infeksi pada telinga, hidung, dan radang tenggorokan, bahkan pada gigi, saluran genitourinaria, kulit dan struktur kulit, juga pada saluran pernapasan yang di sebabkan  oleh Streptococcus spp, S. pneumoniae, Staphylococcus spp, H. influenzae., E. coli, P. mirabilis, atau E. faecalis. Selain itu Amoksisilin juga bermanfaat untuk pengobatan gonore yang akut tanpa komplikasi yang disebabkan oleh N. gonorrhoeae - nah loh bingungkan bacanya ! Jangan bingung, di bawah ini kita kan jelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana untuk bisa anda pahami dengan mudah !

Kandungan Obat Amoksisilin ini akan dengan cepat diserap oleh usus dan tentu saja efektif untuk mengobati berbagai jenis infeksi.sehingga setiap tahunnya kita mengimpor bahan baku amoksisilin hingga ribuan ton untuk diolah menjadi obat Amoksisilin / Amoxicicilin 500 Mg dan kemudian dipasarkan sebagai obat generik maupun obat merek patent seperti Bintamol, Corsamox, Dexymox, Farmoxyl, Bellacid, Kalmoxillin, Lapimex, Ethimox, Opimox, Ospamox, Robamox, Wiamox, Amoxsan, Hufanoxyl, Yusimox, dan masih banyak lagi deh !

Info Lengkap Tentang Hal ini dapat anda cari selengkapnya di -->    SINI


Karena obat Amoksisilin termasuk antibiotik spektrum yang cukup luas dalam kelompok penisilin. maka amoksisilin, yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah ampicillin, oxacillin, carbenicillin dan piperacillin. Semua penisilin akan bekerja dengan mekanisme yang serupa. Zat aktif dalam amoksisilin, beta laktam, akan mencegah sintesis dinding sel bakteri dengan menghambat enzim DD transpeptidase bakteri. Sehingga, bakteri tersebut tidak dapat berkembang biak dengan baik, oleh sebab itulah Amoksisilin merupakan salah satu obat antibiotika yang banyak rekomendasikan dan diresepkan oleh dokter - dokter di Indonesia. Bahkan orang awam saja sering kali ditemukan membeli obat ini secara bebas tanpa resep dokter ( eit jangan di tiru loh ! ) dan ini perlu menjadi PERHATIAN KHUSUS !!! bahwa hal tersebut tidak tepat dan sangat berbahaya !  karena penggunaan antibiotik yang tidak pada tempatnya justru akan menyebabkan seseorang kebal / resisten terhadap antibiotik tersebut, Jika sudah demikian dosis anda akan naik dan bisa berakibat susah sembuh jika nantinya anda sakit.


Mau Tahu Info obatnya di pasaran ? anda bisa lihat sendiri, infonya dapat anda di Klik -->    SINI


Dosis Umum Pengunaan obat Amoksisilin Berdasarkan Resep Dokter !


Anda dapat mengkonsumsi tablet / kapsul / sirup amoksisilin sebelum, selama atau sesudah makan. Dosis amoksisilin umumnya adalah sebagai berikut :

Dewasa, remaja, dan anak-anak (berat> = 40 kg): 500 mg setiap 12 jam atau 250 mg setiap 8 jam.

Anak-anak dan bayi> 3 bulan (berat <40 kg): 20 mg / kg / hari, diberikan dalam dosis sama setiap 8 jam atau 25 mg / kg / hari diberikan dalam dosis  sama setiap 12 jam.

Neonatus dan bayi <= 3 bulan: dosis maksimum yang disarankan adalah 30 mg / kg / hari, diberikan dalam dosis sama setiap 12 jam.

Dosis tersebut dapat bervariasi sesuai tingkat keparahan infeksi, ada atau tidaknya resistensi antibiotik, lokasi infeksi, tujuan sebagai pencegahan (profilaksis) atau pengobatan, dll. ( dengarkan Nasehat dokter anda dengan baik dan jangan lupa tanyakan hal ini )

Harap Di Perhatikan Juga, Bahwa Pengunaan Antibiotik Jenis apa pun tentu Harus Dengan Resep Dokter, karena Dokter akan menimbang secara rasional berapa dosis yang tepat untuk kondisi anda secara kasus per kasus !


Berikut Video Penjelasan Tentang Pengunaan Amoksisilin ( Amoxicicilin 500 Mg ) Oleh Ahlinya - Selamat Menyimak !





Bagaimana Kontraindikasi nya : Perlu di ingat bahwa  Amoksisilin tidak boleh digunakan pada pasien yang hipersensitif atau alergi terhadap obat penisilin, jika yang memiliki penyakit asma, eksim, gatal-gatal, atau demam mungkin akan berisiko lebih besar untuk reaksi hipersensitivitas terhadap amoksisilin dan penisilin pada umumnya.

Ingat !!! Obat Amoksisilin itu harus digunakan dengan hati-hati bila Anda :

    - Mengalami Gangguan ginjal, karena obat tersebut dibuang melalui mekanisme ginjal.
    - Memilik Penyakit saluran cerna, terutama kolitis, karena efeknya terhadap keseimbangan flora usus.
      Leukemia limfatik, karena dapat mengembangkan ruam obat.
    - Mengalami Infeksi virus aktif seperti CMV dan infeksi pernafasan viral.

Sebenarnya Belum ada data yang cukup untuk menilai bahaya potensial dari obat ini selama kehamilan. Oleh karena itu sangat disarankan untuk tidak menggunakan obat ini selama kehamilan tanpa pertimbangan khusus dari dokter anda !

Walaupun Obat Amoksisilin akan diekskresikan dalam ASI dalam jumlah kecil, tetapi hal ini dapat menyebabkan bayi mengalami diare akibat gangguan flora usus, kandidiasis, dan ruam kulit. Seperti semua obat lainnya, potensi risiko ini harus ditimbang dengan manfaatnya pada ibu, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter anda sebelum mengkonsumsinya.


Efek samping Amoksisilin / Amoxicicilin 500 Mg


Pastinya Amoksisilin memiliki beberapa efek samping ! Kebanyakan efek sampingnya cukup ringan, tetapi akan terus meningkat seiring dosis dan lama penggunaanya. Kebanyakan sih reaksi akan merugikan hal ini disebabkan oleh fakta bahwa amoksisilin tidak hanya membunuh bakteri patogen tetapi juga bakteri baik yang merupakan flora alami usus - nah loh, hati - hati makanya ya !  Efek samping potensialnya akan meliputi rasa mual dan ingin muntah hingga sakit perut bahkan diare, berikutkanya akan terjadi  gangguan pencernaan atau dispepsia, dubur akan terasa gatal dan mengalami reaksi alergi yang cukup parah !

Karena Amoksisilin / Amoxicicilin 500 Mg berpotensi menyebabkan efek samping, maka anda harus hindari kegiatan mengemudi atau mengoperasikan mesin berbahaya setelah mengkonsumsi amoksisilin,


Bagaimana Interaksi Amoksisilin / Amoxicicilin 500 Mg dengan obat lain ?


Obat Amoksisilin tentunya dapat berinteraksi dengan obat lain, seperti aspirin, indometasin, sulfinpyrazone, allopurinol, probenesid, antibiotik aminoglikosida, fenilbutazon, oxyphenbutazone dan pil KB ( namun ada kemungkinan mengurangi efektivitas pil tersebut) oleh sebab itu sebaiknya sebelum anda mulai pengobatan, baca dengan baik informasi dan petunjuk dalam label obat.

Konsumsi obat tersebut persis sesuai arahan dokter anda dan selesaikan konsumsi obat teresbut sampai habis, bahkan jika Anda sudah merasa sakit atau infeksi tersebut telah sembuh atau hilang.

--> NEXT -->


Apa Resiko Penghentian Konsumsi Antibiotik yang Tidak Tuntas ?


Penghentian Konsusmi  antibiotik di tengah jalan dapat menyebabkan infeksi datang kembali dan bakteri menjadi kebal / resisten Namun jika Anda lupa untuk meminum obatnya, maka segera minum setelah Anda ingat. Jangan meminum dua dosis sekaligus, nanti anda bisa over dosis !

Selanjutnya jika Anda tidak merasakan kesembuhan atau perkembangan apapun setelah menyelesaikan konsumsi pengobatan tersebut maka segera konsultasi lagi dengan dokter anda ! dan Jika Anda mengalami alergi kemerahan dan gatal di mulut atau vagina setelah mengkosumsi amoksisilin, segera diskusikan hal ini dengan dokter anda untuk  mendapatkan pananganan khusus.

Selanjutnya jika anda menggunakan kontrasepsi hormonal, kontrasepsi tambahan seperti kondom maka hal ini tidak diperlukan kecuali jika Anda sakit atau mengalami diare. Jika Anda membutuhkan saran lebih lanjut, bicarakan dengan dokter atau apoteker.

Bagaimana Indikasi Khusus Amoksisilin ( Amoxicicilin 500 Mg ) ?

Indikasi yang disebabkan oleh strain-strain bakteri yang peka :

    Infeksi kulit dan jaringan lunak : Stafilococcus bukan penghasil penisilinase, streptococcus, E. Coli.
    Infeksi saluran pernafasan : H. Influenza, Streptococcus, Streptococcus pneumoniae, Stafilococcus bukan penghasil penisilinase, E.Coli.
    Infeksi saluran geitourinari :  E.Coli, P.Mirabilis dan Streptococcus faecalis.
    Gonore : N. Gonorrhea (bukan penghasil penisilinase)


Peringatan dan Perhatian !!!

Hati-hatilah dalam pemberian obat ini pada penderita leukimia limphatik, karena kepekaan terhadap rash kulit yang disebabkan Amoksisilin dapat menyebabkan terjadinya kolitis yang berat.
Usahakan Sebelum pengobatan dengan Amoksisilin harus dilakukan pemeriksaan reaksi kepekaan terhadap penisillin. Dalam hal ini Obat Amoksisilin harus digunakan dengan hati-hati pada wanita hamil dan menyusui.
Pengobatan dengan Amoksisilin dalam jangka waktu lama harus disertai dengan pemeriksaan fungsi ginjal, hati dan darah. Dapat menimbulkan superinfeksi (biasanya penyebabnya Enterobacterium, Pseudomonas, S.Aerus, Candida). Bila terjadi hal tersebut, hentikan pengobatan dan diberikan alternatif lain.
Untuk penderita dengan gagal fungsi ginjal monitor tingkat plasma dan urine harus dilakukan penyesuaian dosis. Jangan gunakan untuk pengobatan meningitis atau infeksi pada tulang sendi karena Amoksisilin oral tidak menembus kedalam cairan serebospinal atau sinorial.

Efek samping :

    Reaksi kepekaan seperti ruam eritem makulopapular, urtikaria, ruam kulit, serum sickness.
    Reaksi kepekaan yang serius dan fatal adalah anafilaksis terutama terjadi pada penderita yang hipersensitif terhadap penisilin.
    Gangguan saluran pencernaan seperti mual, muntah, diare.
    Reaksi-reaksi hematologi (biasanya bersifat reversibel).

Kontraindikasi :
Penderita hypersensitif atau mempunyai riwayat hipersensitif terhadap antibiotik betalaktam (penisilin, sefalosporin)

Interaksi obat :

    Probenesid dapat meningkatkan dan memperpanjang level darah Amoksisilin.
    Penggunaan bersamaan Alopurinol dapat menyebabkan peningkatan terjadinya reaksi pada kulit.

Amoksisilin ada didalam wujud tablet, kapsul, tablet kunyah, serta tetes untuk suspensi oral.
Antibiotik ini pas dipakai oleh seluruh grup usia serta adalah di antara obat yang sangat kerap diresepkan.
Sebelum mengkonsumsi obat-obatan terhitung amoksisilin, beritahu dokter bila anda mempunyai problem asma, penyakit hati, penyakit ginjal, dan lain-lain, untuk hindari komplikasi yang tidak di idamkan

Amoksisilin dapat dibilang merupakan antibiotik dasar untuk penyakit, biasanya diberikan untuk pasien anak-anak. Dewasa ini telah banyak diketahui bahwa beberapa jenis kuman telah kebal terhadap amoksisilin.

Amoksisilin termasuk dalam golongan antibiotik beta laktamase, yakni antibiotik yang bekerja dengan cara merusak dinding sel bakteri sehingga bakteri pecah dan mati. Amoksisilin diindikasikan untuk bakteri gram positif, yaitu bakteri-bakteri yang banyak ditemukan di kulit, saluran napas, dan saluran kemih. Oleh karena itu, amoksisilin digunakan untuk penyakit berikut:

    Infeksi tenggorokan (faringits);
    Infeksi amandel (tonsilitis);
    Infeksi telinga;
    Infeksi saluran kemih;
    Infeksi kulit;
    Sakit maag yang disertai infeksi bakteri;
    Pennyakit menular seksual, seperti raja singa;
    Infeksi lapisan jantung (endokarditis).
    
Amoksisilin tidak boleh diberikan pada pasien yang pernah mengalami alergi terhadap antibiotik amoksilin dan penisilin namun  Amoksisilin termasuk obat yang aman. Sejumlah efek samping yang pernah ditemukan dan persentase kemunculannya adalah sebagai berikut:

    Infeksi jamur pada kelamin (2%);
    Diare (1,7%);
    Mual (1,3%);
    Sakit kepala (1%);
    Muntah (0,7%);
    Nyeri perut (0,3);

Efek samping lainnya namun sangat jarang ditemukan antara lain reaksi alergi (anafilaksis), anemia, gangguan fungsi hati, kemerahan pada kulit, dan gangguan ginjal.

--> NEXT -->


PERHATIKAN DOSISNYA, PENGUNAAN AMOKSISILIN HARUS DENGAN RESEP DOKTER !


Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini boleh digunakan hanya untuk penjelasan ilmiah, bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis.

Perhatian: Informasi dalam artikel ini bukanlah resep atau nasihat medis.
Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.



Untuk Para Kalangan awam, mungkin banyak yang bertanya – tanya sebenarnya Cetirizine itu obat apaan sih ? Ternyata Cetirizine itu adalah obat terapi alergi atau istilah ilmiahnya Anafilaksis. Lalu bagaimana cara kerja, Fungsi serta efek samping obat Cetirizine ini, Mari kita simak lebih jauh mengenai Cetirizine tersebut !  Cetirizine adalah slaah satu metabolit aktif dari hidroksizin dengan proses kerja kuat dan panjang dan ini adalah merupakan antihistamin selektif, antagonis reseptor H1 periferal yang memiliki efek sedative cukup rendah pada dosis aktif farmakologi serta memiliki sifat tambahan yaitu sebagai anti alergi, umumya Obat Cetirizine ini akan menghambat pelepasan histamin pada fase awal dan mengurangi migrasi sel inflamasi, lalu bagaimana reaksi dan efeknya di dalam tubuh, serta efek sampingnya Cetirizine ini  jika di gunakan dalam waktu cukup lama atau jangka panjang ? untuk lebih jelasnya anda bisa menyimaknya di bawah ini, namun terkadang ada juga Alternatif pengganti obat-obatan kimia yang bisa di ganti dengan obat - obatan herbal, tapi kita tidak akan membahasnya di sini, untuk keterangan soal obat herbal tersebut lebih lanjut silahkan lihat saja di  -->    SINI



Okay Kita lanjut bahas tentang Cetirizine, ini merupakan obat antihistamin generasi kedua dan merupakan antihistamin selektif, antagonis reseptor H1 periferal dengan efek sedatif  rendah yang membuat mengantuk pada dosis aktif farmakologinya atau dosis anjuran dokter, dalam hal ini obat Cetirizine akan menghambat pelepasan histamin pada fase awal dan berfunsi mengurangi perpindahan sel radang atau inflamasi. Biasanya oleh para dokter obat Cetirizin digunakan untuk pengobatan alergi, hay fever atau rinitis alergi, allergic inflammation of the nasal airways, angioedema, dan urtikaria atau biasa kita sebut biduran.

Untuk Lebih Jelasnya bisa anda Simak di dalam Video penjelasannya di bawah ini, selamat menyimak !







Sekali lagi kita jelaskan bahwa Obat Cetirizine merupakan antihistamin potensial yang memiliki efek sedasi rasa mengantuk ringan dan memiliki sifat tambahan anti alergi. Ternyata Obat Jenis Antihistamin masih menjadi pilihan pertama pengobatan alergi khususnya alergi rinitis. Biasanya dianjurkan dokter mengkonsumsi antihistamin generasi kedua seperti cetirizine atau cetirizine di HCL, desloratadin, fexofenadin, levocetirizine, atau loratadin. ( Sebaiknya Konsultasi Dengan Dokter anda sebelum menggunkan obat - obatan ini )

Cetirizine Merupakan obat antialergi generasi terbaru dengan bahan aktif Cetirizine Dihidroklorida serta sudah terbukti lebih nyaman dan menguntungkan karena tak menimbulkan efek mengantuk berat dan tidak mengganggu aktivitas yang mengkonsumsi,  obat antihistamin Generasi pertama seperti golongan CTM dan difenhidramin biasanya menimbulkan rasa kantuk yang cukup hebat serta memiliki dampak buruj yang membuat kurang nyaman pada pasien seperti gejala lainnya seperti jantung yang berdebar debar. Sedangkan antihistamin generasi kedua seperti cetirizine dan azelastine memiliki efek mengantuk yang lebih rendah pada dosis anjuran, serta tidak menimbulkan efek jantung  berdebar-debar dan penggunaannya cukup sekali sehari, antihistamin generasi kedua ini ternyata memang berbeda dengan antihistamin generasi pertama, antihistamin generasi terbaru umumnya bersifat mengurangi efek rasa kantuk dan sebagian lagi bersifat anti inflamasi ringan.

Cetirizine di HCL mampu menurunkan gejala mayor rinitis alergi seperti hidung berair, bersin, hidung gatal, mata berair lebih besar secara berkala dibandingkan dengan loratadin dan plasebo. Efek cetirizine pada penderita urtikaria idiopatik kronik, pemberian cetirizine  dibandingkan dengan loratadine pemberian  selama 14 hari. Ternyata cetirizine  menurunkan gejala urtikaria berupa timbulnya bentol bentol kemerahan lebih besar dibandingkan dengan loratadin. Pengurangan bentol-bentol dengan cetirizine mencapai 95%, dibandingkan 70% dengan loratadine. Cetirizine di HCL yang merupakan antihistamin generasi kedua lebih sedikit menimbulkan efek sedative pada pasien dibandingkan generasi pertama. Selain efek sedative yang cukup hebat, antihistamin generasi pertama seperti CTM dan difenhidramin juga menimbulkan rasa berdebar-debar. Umumnya gejala bentol - bentol  kemerahan akan berkurang 90% pada penerima cetirizine dibandingkan 62 % pada penerima loratadine.

Katanya sih Cetirizine itu relatif aman diberikan dalam jangka panjang, mengingat obat antihistamin diberikan jika diperlukan saja. Namun untuk kasus urtikaria kronis, pemakaian obat jangka panjang dievaluasi setiap 3-6 bulan sekali. Kadang untuk urtikaria antihistamin H1 seperti cetirizine  dikombinasikan dengan antihistamin H2. ( konsultasi dulu dengan dokter ya, benar atau tidaknya )

Kalau di Negara Amerika Serikat dan Kanada, obat cetirizine seperti  Zyrtec dan Reactine adalah paling laku sebagai produk obat - obatan, yang menghasilkan penjualan milyaran US $ dan juga tersedia sebagai obat generik. Di Australia dan Selandia Baru, Zyrtec tersedia di apotek dan obat cetirizine di Inggris ternyata bisa dijual dalam jumlah terbatas di outlet apapun dan di supermarket, kalau di negara Jerman mereka membuat obat generik yanga mengandung cetirizine dan juga tersedia di apotek tanpa resep. di Negara Norwegia, Swedia, Finlandia, Polandia dan Israel juga mengakui cetirizine sebagai obat bebas. Di India, juga cetirizine ini dijual dengan status obat bebas dengan  merek CTZ  sebelumnya disebut Cetzine, meskipun tetap diklasifikasikan sebagai obat keras. kalau di Indonesia Harus Dengan Resp Dokter Ya !

Dosis dan Pemberian cetirizine

Dewasa dan anak usia diatas 12 tahun : 1 tablet 10 mg, 1 kali sehari
Penggunaan pada penderita gangguan fungsi ginjal : dosis sebaiknya dikurangi menjadi ½ tablet sehari Kejadian mengantuk telah dilaporkan pada beberapa pasien yang mengkonsumsi Cetirizine; oleh karena itu hati-hati bila mengendarai kendaraan atau mengoperasikan mesin. Penggunaan Cetirizine bersamaan dengan alkohol atau depresan sistem saraf pusat lainnya sebaiknya dihindari karena dapat terjadi peningkatan penurunan kewaspadaan dan kerusakan sistem saraf pusat.

 Penelitian dengan diazepam dan cimetidine menunjukkan kejadian interaksi obat.  Sama seperti antihistamin lain, disarankan untuk menghindari konsumsi alkohol yang berlebihan.

OVER DOSIS : Mengantuk dapat menjadi gejala overdosis, akibat mengkonsumsi 50 mg sebagai dosis tunggal. Pada anak-anak, bisa terjadi agitasi (gelisah). Apabiia terjadi overdosis, pengobatan diiakukan pada gejalanya atau pendukungnya, bisa disarankan untuk menggunakan obat pencernaan secara bersamaan. Hingga saat ini, tidak ada antidot yang khusus. Cetirizine tidak efektif untuk dihilangkan dengan cara dialysis, dan dialysis akan tidak efektif kecuali zat yang dapat didiaiisa sama-sama dicerna.

Penyimpanan: Simpan pada suhu kamar ( 25 – 30<sup>o</sup>C ) dan terlindung dari cahaya.

Pemberian decongestan tetes maupun semprot, sebaiknya tidak melebihi 5-7 hari untuk menghindari rinitis medikamentosa. Dekongestan oral sering dikombinasikan dengan antihistamin, tetapi sebaiknya tidak diberikan pada penderita penyakit hipertensi dan jantung. Kortikosteroid nasal bisa diberikan pada penderita rinitis yang disertai hidung tersumbat dan pemakaian jangka panjang. Obat-obat lain yang diberikan pada rinitis alergi adalah ipratropium bromida, natrium kromolin, dan antagonis lekotrin.
  
Sediaannya saat ini terdiri dari kapsul yang mengandung cetirizine dihidroklorida 10 mg. Obat ini juga tersedia dalam bentuk sirup kemasan botol 60 ml, setiap 5 ml sirup mengandung cetirizine dihidroklorida 5 mg.
  
Bentuk kunyah, non-kunyah, dan sirup cetirizine sama-sama diserap secara cepat dan efektif, dengan makanan diserap teliti mempengaruhi tingkat penyerapan yang menghasilkan kadar serum puncak satu jam setelah pemberian
  
Pada saat ini tidak ada interaksi dengan obat lain, Diazepam dan Cetirizine tidak memperlihatkan interaksi. Seperti pemakaian antihistamin lainnya, disarankan untuk tidak mengkonsumsi alkohol.
 
Seperti layaknya banyak obat antihistamin lainnya, cetirizine yang umumnya diresepkan oleh dolter dalam kombinasi dengan pseudoefedrin hidroklorida, dekongestan.  Kombinasi ini dipasarkan dengan menggunakan nama merek yang sama seperti cetirizine dengan “-D” akhiran (Zyrtec-D, Virlix-D, dll) Sebelumnya hanya tersedia dengan resep, Zyrtec menjadi tersedia over-the-counter di Amerika Serikat, seperti yang dilakukan Zyrtec-D di kebanyakan negara, kalau di indonesia Tentu Saja Harus dengan Resep Dokter !

Kontra Indikasi cetirizine :

Penderita dengan riwayat hipersensitif terhadap kandungan dalam obat.
Wanita menyusui, karena kandungan aktif cetirizine diekskresi pada air susu ibu.

Efek samping cetirizine

Ada beberapa laporan terjadinya efek samping ringan dan sementara, misalnya

    Kekeringan pada mulut, hidung dan tenggorokan
    Pusing
    Retensi urin
    Penglihatan kabur
    Mimpi buruk
    Sakit perut
   
Pada beberapa orang mungkin saja  terjadi reaksi hipersensitif, termasuk reaksi kulit dan mungkin terjadi angiodema, walaupun dengan ukuran objektif tidak menunjukkan adanya pada fungsi kognitif, kinerja motorik atau mengantuk, namun demikian masih adanya efek terhadap system syaraf pusat dan telah diamati pada beberapa penderita, Oleh sebab itu berhati-hatilah bila mengendarai mobil atau mengoperasikan mesin jika mengkonsumsi obat ini.
  
Penggunaan pada kehamilan Cetirizine hanya boleh diberikan kepada wanita hamil, bila benar-benar diperhitungkan keuntungan lebih besardari kerugiannya.
 
Hati-hati penggunaan pada penderita epilepsi.

Berbagai  nama dagang obat Cetirizine

1. Betarhin- Mahakam Beta Farma Tablet 10 mg x 20′s - Sirup 60 mL x 1′s
      Oral drop 30 mL x 1′s

2. Cerini – Sanbe - Kaplet 10 mg x 2 x 10′s

3. Cetinal - Kalbe farma - Tablet kunyah 10 mg x 3 x 10′s

4. Cetirizine OGB - Kimia Farma - Tablet 10 mg x 3 x 10′s

5. Cetrixal -  Sandoz - Tablet 10 mg x 5 x 10′s

6. Cetrol – Solas - Kaplet 10 mg x 5 x 10′s

7. Estin - Gracia Pharmindo Tablet 10 mg x 2 x 10′s , Sirup 5 mg/5 mL x 60 mL x 1′s

    Oral drop 10 mg/1 mL x 10 mL x 1′s

8. Falergi- Fahrenheit - Tablet 10 mg x 60′s , Oral drop 10 mg/1 mL x 20 mL x 1′s

9. Histrin – Ferron Tablet 5 mg x 30′s 10 mg x 3 x 10′s Sirup 5 mg/5 mL x 60 mL x 1′s

    Oral drop 10 mg/1 mL x 20 mL x 1′s

10 . Incidal OD - Bayer Schering Pharma - Kapsul 10 mg x 5 x 10′s, Sirup 5 mg/5 mL x
       60 mL x 1′s.

--> NEXT


CETIRIZINE 10 mg Tablet Salut Selapu

KOMPOSISI :
Tiap tablet salut selaput mengandung Cetirizine diHCl 10 mg

FARMAKOLOGI  :

Cetirizine adalah antihistamin, pada dosis farmakologi aktif, mempunyai efek mengantuk yang lebih kecil, dengan tambahan sifat antialergi. Cetirizine adalah reseptor H1-antagonis selektif dan pada reseptor lain efeknya dapat diabaikan, bebas dari efek anticholinergik dan antiserotonin. Cetirizine menghambat mediator histamin fase awal dari reaksi alergi, juga menurunkan migrasi sel inflamasi dan melepaskan mediator yang berhubungan dengan respon alergi yang sudah lama.

FARMAKOKINETIK :
-     Puncak level darah untuk 0,3 ug/ml dicapai antara 30- 60 menit setelah pemberian Cetirizine 10 mg.
-     Waktu paruh plasma kira-kira 11 jam.
-     Absorpsi sangat konsisten pada semua subjek. Pengeluaran melalui ginjal 30 ml/menit dan waktu paruh ekskresi kira-kira 9 jam.
-     Cetirizine terikat kuat pada protein plasma.

INDIKASI : Pengobatan perennial rinitis, alergi rinitis musiman dan kronik idiopatik urtikaria.

POSOLOGI :

-     Dewasa dan anak-anak diatas atau sampai 12tahun: 1 tablet (10 mg) perhari.
-     Pada saat ini tidak cukup data klinik untuk direkomendasikan penggunaan Cetirizine pada anak-anak di bawah atau sampai 12 tahun.
-     Pada saat ini tidak ada data, yang menyarankan penurunan dosis untuk penderita lansia. 0  Pada penderita kerusakan ginjal, dosis harus dikurangi menjadi 1/2 tablet perhari.

OVER DOSIS :
Mengantuk dapat menjadi gejala overdosis, akibat mengkonsumsi 50 mg sebagai dosis tunggal. Pada anak-anak, bisa terjadi agitasi (gelisah). Apabiia terjadi overdosis, pengobatan diiakukan pada gejalanya atau pendukungnya, bisa disarankan untuk menggunakan obat pencernaan secara bersamaan. Hingga saat ini, tidak ada antidot yang khusus. Cetirizine tidak efektif untuk dihilangkan dengan cara dialysis, dan dialysis akan tidak efektif kecuali zat yang dapat didiaiisa sama-sama dicerna.

KONTRA INDIKASI :
Penderita dengan pengalaman hipersensitif pada Cetirizine. Cetirizine kontraindikasi pada ibu menyusui karena diekskresikan melalui ASI.

PERINGATAN DAN PERHATIAN :
- Penelitian dengan ukuran objektif tidak menunjukkan adanya efek cetirizine pada fungsi kognitif, kinerja motorik atau mengantuk. Walaupun demikian, adanya efek terhadap system syaraf pusat telah diamati pada beberapa individu penderita, karenanya hati-hati bila mengendarai mobil atau mengoperasikan mesin.

- Penggunaan pada kehamilan Cetirizine hanya boleh diberikan kepada wanita hamil, bila benar-benar diperhitungkan keuntungan lebih besardari kerugiannya.

- Hati-hati penggunaan pada penderita epilepsi.

EFEK SAMPING :
Ada beberapa laporan terjadinya efek samping ringan dan sementara, misalnya sakit kepala, pusing, mengantuk, gelisah, kering mulut dan ketidaknyamanan pada pencernaan. Pada beberapa individu terjadi reaksi hipersensitif, termasuk reaksi kulit dan mungkin terjadi angiodema.

INTERAKSI :
Pada saat ini tidak ada interaksi dengan obat lain. Penelitian Diazepam dan Cetirizine tidak memperlihatkan interaksi. Seperti pemakaian antihistamin lainnya, disarankan untuktidak mengkonsumsi alkohol.

KEMASAN :
Dus berisi 3 strip @ 10 tablet salut selaput
No. Reg. GKL0412421717A1

Simpan pada suhu kamar (25- 30 °C), terlindung dari cahaya.

--> NEXT


Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini boleh digunakan hanya untuk penjelasan ilmiah, bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis.

Perhatian: Informasi dalam artikel ini bukanlah resep atau nasihat medis.
Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.